Peluang Usaha Budidaya Unggas

Peluang Usaha Budidaya Unggas / Usaha Itik / bebek Biaya Investasi Usaha Ternak Itik / bebek Petelur : Oleh karena kebutuhan investasi pada pola intensif dan semi-intensif adalah sama, maka biaya investasi yang harus dikeluarkan untuk skala usaha 300 ekor per periode dengan penambahan populasi setiap tiga bulan sekali adalah Rp. 64.594.000,00

Komponen investasi tersebut adalah lahan, kandang, rumah jaga, bibit itik / bebek dan peralatan produksi. yang digunakan adalah 1500 m2, yang digunakan untuk membangun 4 unit kandang yang menampung 1200 ekor itik / bebek. Peralatan per unit kandang yang dibutuhkan adalah tempat pakan dan minum, jumlahnya masing-masing 12 dan 10 buah, serta tempat telur sebanyak 42 buah .

Umumnya investasi tersebut harus diadakan ± satu bulan sebelum masa pemeliharaan itik / bebek, namun ada juga yang baru diadakan setelah pemeliharaan berlansung. Sewa lahan dan pembuatan pagar dilakukan pada bulan ke-0 pemeliharaan, sedangkan kandang dibangun secara bertahap. Tahap pertama dibangun dua unit pada bulan ke-0, sedangkan tahap kedua dibangun kembali dua unit pada bulan ke-6 (saat populasi kandang > 600 ekor).

Pengadaan peralatan mengikuti jadwal pengadaan kandang. Jumlah alat yang disiapkan untuk dua unit kandang adalah 24 unit tempat pakan dan 20 buah tempat minum. Untuk tempat telur, pada tahap pertama adalah 20 buah dan tahap berikutnya 22 buah. Rumah jaga baru dibangun setelah populasi itik / bebek > 600 ekor (pada bulan ke-6). Bibit itik / bebek sendiri sebanyak 300 ekor diadakan setiap tiga bulan sekali atau mengikuti pola penambahan populasi itik / bebek.

Kebutuhan investasi usaha itik / bebek petelur pola ekstensif pada skala 100 ekor per periode dengan penambahan tiga bulan sekali adalah Rp.22.596.667,00. Jumlah tersebut ditujukan bagi pengadaan bibit itik / bebek, kandang jaring (kandang untuk tidur), tenda jaga, dan tempat telur.

Pada pola ekstensif , itik / bebek dibiarkan untuk mencari makan sendiri sehingga pada saat digembalakan tersebut kegiatan makan dapat dilakukan sekaligus bermain. Kandang yang dibutuhkan hanya kandang sederhana untuk tidur (terbuat dari jaring dan beratap plastik).

Adapun umur penggunaan komponen biaya investasi tersebut sama dengan umur penggunaan komponen biaya investasi pada pola intensif maupun semi-intensif.

Seluruh komponen biaya investasi ini diadakan sebelum masa pemeliharaan (bulan ke-0), kecuali bibit itik / bebek sebanyak 100 ekor yang diadakan setiap tiga bulan sekali.

Biaya produksi dan operasional

Modal kerja usaha itik / bebek petelur terdiri atas biaya yang berkaitan dengan proses produksi dan biaya operasi sebagai penunjang penyelenggara produksi. Biaya produksi dan operasi tersebut meliputi biaya, obat-obatan sekam, tenaga kerja, biaya pemeliharaan alat, serta pakan ternak, (kecuali pola ekstensif yang tidak membutuhkan pakan buatan).

Biaya operasional yang dibutuhkan untuk pola intensif adalah Rp. 369.495,00; lebih tinggi dibandingkan biaya operasional pada pola semi-intensif, yaitu sebesar Rp 233.056.200,00. Perbedaan kebutuhan biaya investasi dan operasional pada pola pemeliharaan intensif dan semi-intensif tersebut ditunjukkan pada Modal kerja pada pola intensif ini meliputi tenaga kerja, pakan, obat-obatan, sekam, listrik dan transport. Untuk skala usaha 300 ekor ini memerlukan 2 orang pegawai yang digaji bulanan. Pakan yang diberikan adalah 4,5 kg/ekor/bulan, dengan harga pakan Rp. 1.800,00/kg, sehingga biaya pakan untuk 300 ekor itik / bebek adalah Rp. 2.430.000,00/bulan. Biaya untuk obat-obatan dianggap Rp. 800,00/ekor/bulan, sedangkan biaya sekam adalah Rp. 75,00/ekor/bulan. Biaya listrik dan transportasi masing-masing adalah Rp. 100.000,00/bulan dan Rp. 200.000,00.

Biaya pakan pada pola semi-intensif lebih rendah, menghemat hampir setengah dari biaya pakan pada pola intensif. Jika pada pola intensif, pakan pabrik diberikan tiga kali dalam sehari, maka pada pola semi-intensif pakan pabrik hanya diberikan dua kali saja. Pada saat panen padi, itik / bebek digembalakan (setahun itik / bebek digembalakan selama tiga bulan). Selain itu pada masa rontok bulu, itik / bebek hanya diberi pakan dedak saja. Pemberian dedak tersebut dimaksudkan hanya untuk membuat itik / bebek tidak lapar saja dan tidak mempengaruhi kesehatan itik / bebek.

Namun ada penambahan biaya tenaga penggembala (angon) dan biaya untuk memberi pemilik sawah gembalaan (biaya sawah angon). Tenaga kerja penggembala yang dipekerjakan pada skala ini adalah 2 orang, yang bekerja selama sebulan (masa panen padi). Sementara biaya “sawah angon” ini berupa beberapa butir telur itik / bebek (36 butir /kelompok itik / bebek /bulan).

Modal kerja pada pola ekstensif skala usaha 100 ekor per periode sebesar Rp.9.438.242,00; hanya untuk upah tenaga kerja, vitamin itik / bebek, dan biaya sawah angon. Sepanjang masa pemeliharaan, itik / bebek dibiarkan mencari makan sendiri sehingga peternak tidak mengeluarkan biaya pakan. Tenaga kerja penggembala yang dipekerjakan 1 -2 orang, dengan upah bulanan Rp. 200.000,00. Biaya “sawah angon” yang diberikan sebanyak 17 butir/kelompok itik / bebek/bulan.

Pola Pemeliharaan ekstensif

Pemeliharaan itik / bebek petelur dengan pola ekstensif atau disebut juga pola tradisional, adalah pemeliharaan itik / bebek dengan cara “angon ” (digembalakan) secara penuh. Umumnya peternak itik / bebek ekstensif termasuk dalam peternak kecil, yang hanya memiliki 100 – 400 ekor itik / bebek. Pada kajian analisis finansial ini digunakan skala usaha 100 ekor/periode, dengan penambahan populasi per tiga bulan. Masa pemeliharaanya sama seperti pola lainnya. Itik / bebek seringkali hilang pada saat digembalakan. Tingkat kehilangan (deplesia) itik / bebek akibat sistem penggembalaan tersebut adalah 4 %.

Kandang itik / bebek petelur dengan pola ekstensif hanya berfungsi sebagai tempat untuk tidur yang luasannya 3 ekor/m2. Kandang hanya berupa kurungan sederhana dari bambu dan jaring yang beratap plastik. Kandang tersebut dibawa berpindah-pindah tempat, mengikuti sumber pakan itik / bebeknya. Untuk menjaga ternaknya, penggembala membutuhkan “tempat jaga”. Umumnya hanya berupa tenda sederhana yang terbuat dari kain terpal atau plastik.

Masa produktif itik / bebek pola ekstensif sama dengan pola-pola yang lain. Perbedaannya pada tingkat produktivitasnya yang sangat rendah, yaitu tahap pertama 30 % dan tahap kedua 28 %. Itik / bebek tidak membutuhkan pakan buatan karena seluruh kebutuhan pakannya harus dapat tercukupi dari alam. Selain itu umumnya peternak itik / bebek secara ekstensif hanya menggunakan vitamin untuk itik / bebeknya. Kebutuhan tenaga kerja “angon” adalah seorang untuk setiap 100 – 225 ekor itik / bebek.

Peralatan yang dibutuhkan hanya beberapa buah tempat (tray) telur. Untuk skala 100 ekor itik / bebek, biaya sawah angon sebanyak 17 butir telur itik / bebek per bulan per kelompok gembala.

Pola Pemeliharaan Intensif

Beternak itik / bebek petelur secara intensif, berarti itik / bebek tidak digembalakan, sehingga pakannya disediakan secara penuh dan kandangnya disesuaikan. Pada umumnya peternak itik / bebek petelur di Indonesia memiliki skala usaha 100 – 400 ekor (skala kecil) dan kurang-lebih 500 ekor (skala besar). Skala usaha yang digunakan dalam analisis finansial itik / bebek petelur dengan pola pemeliharaan intensif adalah 300 ekor per masa pemeliharaan (12 bulan). Masa pemeliharaan itik / bebek dari bibit itik / bebek dara (6 bulan) hingga afkir adalah 365 hari, dengan tingkat mortalitas (mati) satu persen.

Itik / bebek sudah mulai bertelur mulai bulan pertama hingga bulan kedua belas, dengan dua tahap produksi telur. Pada satu masa pemeliharaan tersebut, itik / bebek mengalami rontok bulu selama dua bulan (bulan keenam dan ketujuh), sehingga pada masa itu itik / bebek tidak bertelur. Tahap produksi pertama (bulan pertama hingga kelima) idealnya produktivitas itik / bebek rata-rata 70% dari jumlah populasi, dan tahap kedua (dari selesai rontok bulu hingga afkir) rata-rata 60%.

Adanya masa tidak bertelur tersebut, peternak harus mengatur pola produksi, sehingga kontinuitas telur itik / bebek yang dihasilkan dapat terus terjaga (berkelanjutan). Oleh karena itu harus ada penambahan populasi itik / bebek pada waktu tertentu. Bibit itik / bebek ditambahkan secara bertahap, yaitu 300 ekor setiap tiga bulan sekali sehingga pada akhir tahun populasi itik / bebek tersebut telah tetap berjumlah 1200 ekor.

Kebutuhan luasan kandang itik / bebek petelur pola intensif, untuk tempat tidur adalah 3 ekor/m2, serta tempat bermain (pengganti tempat “angon”) 2 ekor/m2. Satu unit kandang dengan luas 252 m2 tersekat menjadi 3 buah kandang, mampu menampung 300 ekor itik / bebek. Penambahan 300 ekor per tiga bulan tersebut menyebabkan populasi itik / bebek menjadi 1200 ekor, sehingga dibutuhkan 4 unit kandang sistem ren.

Selain kandang, usaha itik / bebek petelur pola intensif juga membutuhkan sarana penunjang lain, yaitu bangunan rumah jaga yang juga sekaligus gudang. Oleh karena itu, lahan yang dibutuhkan untuk menampung 4 unit kandang itik / bebek (12 kandang), dan satu buah bangunan rumah jaga dan gudang (100 m2) adalah kurang lebih 1500 m2. Peralatan kandang yang dibutuhkan hanya baskom dengan diameter kurang lebih 40 cm untuk tempat pakan dan minum itik / bebek. Satu buah baskom untuk tempat pakan, digunakan untuk 25 ekor itik / bebek dan untuk tempat minum digunakan 30 ekor .

Itik / bebek diberi makan penuh, yaitu tiga kali sehari (pagi-siang-sore). Pakan yang digunakan pada pola ini adalah pakan buatan (pabrik). Kebutuhan pakan untuk itik / bebek petelur adalah 150 g/ekor/hari, sehingga setiap bulannya dibutuhkan 4,5 kg/ekor. Pemberian obat dan vitamin pada itik / bebek petelur dengan pola intensif dilakukan setiap satu bulan sekali. Tenaga kerja yang dibutuhkan untuk pemeliharaan itik / bebek petelur dengan pola ini adalah 1 orang setiap 100 – 500 ekor itik / bebek. Untuk alas tidurnya, kandang itik / bebek petelur perlu diberi jerami atau sekam, dan diganti setiap bulannya.

Pola Pemeliharaan Semi-Intensif

Hampir seluruh parameter-parameter yang digunakan dalam pemeliharaan itik / bebek petelur semi-intensif sama dengan pola pemeliharaan intensif. Perbedaannya hanya pada pola pemberian dan kebutuhan pakan, serta kebutuhan tenaga kerja saja.

Pada pola pemeliharaan ini, pola pemberian pakan buatan dalam kandang (intensif) dikombinasikan dengan pemberian pakan alami berupa sisa-sisa panenan sawah yang ada disekitar kandang. Pada dua bulan pertama itik / bebek diberi pakan dalam jumlah dan cara yang sama seperti pada pola intensif, yaitu 150 g/ekor/hari. Bulan berikutnya itik / bebek hanya diberi makan dua kali (pagi dan sore), karena siang harinya digembalakan di sawah sekitar kandang. Jumlah pemberiannya pun berkurang, yaitu sekitar 100 g/ekor/hari.

Namun pada saat masa rontok bulu, pakan itik / bebek diganti dedak. Hal ini dimaksudkan agar biaya pakan lebih hemat (harga dedak lebih murah dari harga pakan buatan). Selain itu, pakan dedak cukup memenuhi nutrisi itik / bebek yang sedang tidak produktif, namun takarannya harus sama dengan pakan pabrik. Selain pemberian dedak untuk menghemat biaya pakan, masa panen padi juga dimanfaatkan peternak untuk memberi pakan itik / bebeknya. Masa panen padi, yang berlangsung sekitar tiga hingga empat kali selama satu tahun ini, itik / bebek digembalakan. Pada saat digembalakan, itik / bebek tidak diberi makan sama sekali sehingga peternak tidak mengeluarkan biaya pakan.

Kebutuhan tenaga kerja pada pola ini juga disesuaikan, karena adanya penggembalaan tersebut maka dibutuhkan tenaga tambahan untuk menggembalakan itik / bebek selain tenaga kerja pemeliharaan. Pada saat penggembalaan itik / bebek secara masal (masa panen padi) dibutuhkan seorang tenaga penggembala untuk setiap 100 – 225 ekor itik / bebek. Biasanya itik / bebek digembalakan berpindah-pindah, adakalanya jaraknya cukup jauh satu sama lain. Namun diluar masa penggembalaan masal tersebut, itik / bebek hanya digembalakan disekitar kandang, sehingga yang menggembalakan adalah tenaga kerja pemeliharaan saja.

Produktivitas itik / bebek pola semi-intensif sedikit lebih rendah daripada pola intensif, yaitu 68% -58%. Perbedaan tersebut disebabkan karena perbedaan pola pemberian makan dan adanya perlakuan penggembalaan selama masa pemeliharaan.

Kegiatan penggembalaan ini menyebabkan adanya tambahan biaya, berupa biaya sawah angon. Kepada pemilik sawah, peternak tidak “membayar” dalam bentuk uang tunai. Kebiasaan yang ada dalam sistem penggembalaan adalah memberi beberapa butir telur itik / bebek kepada pemilik sawah. Pengeluaran tersebut dibebankan sebagai “biaya sawah angon”. Untuk skala 300 ekor, biaya sawah setiap bulan yang dikeluarkan adalah 36 butir per kelompok penggembalaan.

Standar Biaya

Total Project Cost : Kebutuhan biaya usaha itik / bebek petelur berbeda setiap polanya. Usaha itik / bebek petelur baik pola semi-intensif maupun intensif membutuhkan biaya yang jauh lebih besar daripada pola tradisional (ekstensif). Biaya-biaya tersebut meliputi biaya investasi dan biaya operasional.

Biaya investasi usaha ternak itik / bebek pola intensif dan semi-intensif jenis dan jumlahnya relatif sama, karena kebutuhan sarananya sama, seperti kebutuhan lahan, rumah jaga dan pagar (jika diperlukan), jumlah bibit, bentuk kandang dan peralatan produksi.

Adapun biaya operasional usaha ternak itik / bebek pola intensif dan semi-intensif hampir sama, seperti biaya pakan, tenaga kerja, obat-obatan, sekam, transportasi dan listrik. Perbedaannya adalah dalam jumlah tenaga kerja yang digunakan, jumlah pakan, dan adanya biaya sawah angon pada pola semi-intensif.

Pada Tabel berikut ini adalah gambaran mengenai struktur biaya usaha itik / bebek petelur pola intensif dan semi-intensif:

Tabel Struktur Biaya Usaha Itik / bebek Petelur Pola Intensif dan Semi-Intensif

(Skala usaha 300 ekor per periode)

No

Komponen Biaya

Nilai (Rp)

Pola Intensif

(1)

Pola Semi-Intensif

(2)

A

Biaya Investasi

1

Sewa lahan (1500 m2)

450.000

450.000

2

Kandang (252 m2)

20.160.000

20.160.000

3

Peralatan :

Tempat pakan & minum

704.000

704.000

Tempat telur

420.000

420.000

4

Rumah jaga

10.000.000

10.000.000

5

Pagar (bambu)

4600.000

4600.000

6

Bibit Itik / bebek Layer

32.400.000

32.400.000

Total Investasi

64.594.000

64.594.000

B

Biaya Operasional

Biaya Tetap

1

Tenaga kerja

a. Pemeliharaan

19.800.000

19.800.000

b. Penggembala

6.600.0000

2

Listrik

3.240.000

3.240.000

3

Transportasi

7.200.000

7.200.000

4

Biaya sewa lahan (angon)

2.761.000

Biaya Variabel

5

Pakan

306.180.000

160.380.000

6

Obat-obatan

30.240.000

30.240.000

7

Sekam

2.835.000

2.835.000

Total Operasional

369.495.000

233.056.200

Standar biaya pada pola ekstensif ditampilkan pada Tabel . Biaya investasi dan operasional pola ini lebih rendah dibandingkan dua pola pemeliharaan lainnya. Pada pola ekstensif, biaya investasinya juga berupa bibit itik / bebek, kandang sederhana, dan tenda jaga. Pola ini tidak membutuhkan bangunan dan kandang yang permanen, sehingga kebutuhan modalnya lebih kecil.

Pada biaya operasional, kelebihan pola ekstensif ini adalah tidak memerlukan biaya pakan, sehingga modal yang dibutuhkan menjadi lebih kecil.

Struktur Biaya Usaha Itik / bebek Petelur Pola Ektensif

(Skala 100 ekor per periode)

Komponen Biaya

Nilai (Rp)

A

Biaya Investasi

1

Kandang jaring

666.667

2

Tenda jaga

150.000

3

Bibit Itik / bebek Layer

21.600.000

4

Peralatan :

Tempat Telur

180.000

Total Investasi

22.596.667

B

Biaya Operasional

Biaya Tetap

1

Tenaga kerja

8.400.000

2

Biaya sewa sawah (angon)

843.242

Biaya Variabel

3

Obat-obatan

195.000

Total Operasional

9.438.242

Total Project Cost Usaha Telur Asin

Peluang Usaha Budidaya Unggas / Usaha Itik / bebek Standar Biaya / Total Project Cost Usaha Telur Asin (Salted Eggs) : Biaya investasi usaha telur asin lebih banyak ragamnya dibandingkan usaha itik / bebek petelur. Biaya tersebut meliputi biaya pengadaan lahan, bangunan pabrik,sejumlah peralatan produksi, dan satu unit kendaraan roda empat. Adapun biaya operasionalnya meliputi biaya pengadaan bahan baku, bahan penolong, transportasi dan listrik.

Berikut ini adalah struktur biaya usaha telur asin pada skala usaha 750 butir per hari :

Tabel Struktur Biaya Usaha Telur Asin Skala Usaha 750 butir per hari

No

Komponen Biaya

Nilai (Rp)

A

Biaya Investasi

1

Lahan (70 m2)

7.5000.000

2

Bangunan pabrik (60 m2)

16.000.000

3

Peralatan :

a.

Ember besar

60.000

b.

Ember Kecil

80.000

c.

Peti Kayu

300.000

d.

Panci Besar

446.250

e.

Kompor pompa

200.000

f.

Keranjang

120.000

Kendaraan pick up

60.000.000

Total Investasi

84.646.250

B

Biaya Operasional

1

Telur Itik / bebek

343.687.500

2

Bata Merah Halus

15.862.500

3

Garam

475.875

4

Minyak tanah

1.128.000

5

Tenaga Kerja

11.750.500

7

Listrik

2.400.00

8

Biaya Transportasi

7.200.000

9

Kemasan

7.931.250

Total Operasional

394.035.125

Leave a Reply

Your email address will not be published.