Gambaran Umum Budidaya Kodok Lembu

Budidaya kodok merupakan suatu sistem yang terdiri dari beberapa aspek yang terdiri dari aspek pembenihan, pembesaran, dan pasca panen. Ketiga aspek tersebut harus saling mendukung untuk mendapatkan produk yang berkualitas seperti terlihat pada siklus produksi kodok seperti pada gambar

Siklus Pemeliharaan Budidaya Kodok Lembu

Ciri Khas Komoditas yang Dikaji

Walaupun kodok lembu sudah cukup lama dikenal oleh masyarakat Indonesia tetapi untuk mengkaji secara jelas sifat biologi dan perilaku kodok lembu masih sedikit orang yang melakukannya. Pengenalan terhadap sifat biologi dan perilaku kodok lembu akan memudahkan petani dalam membudidayakannya. Pengenalan terhadap kodok lembu dapat dipelajari dalam beberapa aspek biologinya, yaitu klasifikasi, morfologi, habitat, makanan, perkembangbiakannya, dan sebagainya.

Klasifikasi

Menurut Grzimek (1974), klasifikasi kodok lembu adalah sebagai berikut.

Filum : Chordata

Kelas : Amphibia

Sub kelas : Anaumorpha

Ordo : Anaurans

Subordo : Diplasiocoela

Famili : Ranidae

Sub famili : Raninae

Genus : Rana

Spesies : Rana catesbeiana Shaw

Ciri Morfologi Kodok lembu memiliki susunan tubuh yang terdiri dari kepala, badan dan alat gerak. Kepala kodok lembu terdiri dari beberapa organ, yaitu mulut, mata, dan gendang telinga dan lubang hidung. Mulut berukuran lebar dan berada sedikit kebawah serta membelah secara horizontal ke hampir seluruh bagian kepala dengan lubang hidung yang kecil. Mata berwarna hitam dan memiliki pinggiran berwarna coklat muda. Gendang telinga berbentuk cincin berwarna coklat tua dan bagian tengah berwarna hijau.

Badan yang terdiri dari perut dan punggung memiliki panjang tiga kali panjang kepala. Perut berwarna putih kekuningan dengan kulit yang halus dan elastis. Punggung berwarna hijau dengan kulit agak kasar dan tulang punggungnya menonjol sehingga tampak bungkuk.

Kodok lembu memiliki dua bulah alat penggerak yaitu sepasang kaki depan dan belakang. Kaki kodok terbagi menjadi tiga bagian, yaitu paha, betis dan jari-jari. Panjang paha dan betis hampir sama, akan tetapi daging pada paha lebih besar jika dibandingkan dengan daging betis. Kaki depan kodok lembu tidak terdapat selaput renang, dengan jari-jari sebanyak 4 buah. Kaki belakang memiliki jari.jari 5 buah dan memiliki selaput renang yang elastis. Panjang kodok lembu bisa mencapai 15-17,5 cm, sedangkan besarnya bisa mencapai 1 kg. Morfologi kodok lembu tersebut adalah secara umum, sedangkan antara kodok lembu jantan dan betina dapat dibedakan

Perbedaan kodok lembu jantan dan betina adalah sebagai berikut.

Kodok lembu jantan

  • Ukuran lingkaran gendang telinga, dua kali lebih besar dari lingkaran mata,
  • Warna kulit disekitar kerongkongan hijau kekuningan,
  • Ibu jari bagian depan relatif lebih besar,
  • Ukuran badan relatif lebih kecil,
  • Memiliki kantung suara yang terletak diantara selaput gendang dan pangkal kaki depan.

Kodok lembu betina

  • Ukuran lingkaran gendang telinga relatif sama dengan lingkaran mata,
  • Warna kulit disekitar kerongkongan putih dengan bintik-bintik kehitaman,
  • Ibu jari bagian depan relatif lebih besar,
  • Tidak memiliki kantung suara.

Kodok lembu memiliki dua jenis habitat. Pada masa kecebong/berudu hidup di air, sedangkan pada stadia percil atau kodok muda sudah memerlukan daratan sebagai tempat hidupnya dan hanya sekali sekali saja memerlukan air. Habitat kodok di alam biasanya di genangan-genangan air seperti danau, reservoir, dan sungai-sungai yang aliran airnya tidak terlalu deras, kodok lembu dapat hidup di daerah tropis maupun sub tropis, akan tetapi pertumbuhannya lebih cepat di daerah sub tropis. Kodok lembu merupakan perenang cepat, Karena memiliki kaki yang kuat. Warna tubuh bermacam-macam dan tidak membedakan jenis kelamin, namun karena disebabkan oleh pengaruh sinar matahari dan keadaan lingkungan.

Dalam siklus hidupnya, Kodok lembu dibagi menjadi empat macam fase, yaitu telur, berudu, percil dan dewasa. Perubahan bentuk terjadi pada fase berudu dan fasa percil dan hal ini disebut juga transformasi/metamorfosis. Waktu yang diperlukan untuk mengadakan perubahan bentuk berkisar antara dua sampai tiga bulan, tergantung dari kualitas air dan makanan yang tersedia dalam media hidupnya.

Pada stadia berudu lebih bersifat omnivora (pemakan segala), sehingga termasuk memakan plankton, jasad renik, dan lumut. Berudu juga dapat bersifat scavenger atau pemakan bangkai seperti anak ikan mati dan sebagainya. Disamping pakan alami, berudu juga dapat diberikan pakan buatan asalkan halus. Contohnya seperti konsentrat sebagai pakan ternak. Pada stadia percil sampai dewasa, kodok lembu lebih banyak memakan makanan yang bergerak seperti serangga., cacing tanah, belatung/ulat, serta ikan kecil, sehingga makanan tersebut baru dimakan apabila dalam keadaan bergerak.

Perkembangbiakan di Alam

Kodok lembu memijah pada awal musim hujan dan selama musim hujan, terutama di kolam, danau dan perairan umum lainnya. Kodok lembu jantan akan mengeluarkan suara yang khas untuk memanggil sang betina. Sebagai proses perkawinan kodok lembu jantan yang umumnya lebih kecil, akan berada akan berada dibagian atas kodok lembu betina, dengan rangsangan tertentu betina akan mengeluarkan telur dan bersamaan dengan itu jantan akan mengeluarkan sperma, sehingga pembuahan akan terjadi diluar. Telur akan ditempelkan pada substrat yang ada seperti akar eceng gondok, hidrilla atau rerumputan yang berada dalam air yang jernih.

Leave a Reply

Your email address will not be published.