Peluang Usaha Perdagangan Sarana produksi pertanian (saprotan)

Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang sangat penting kontribusinya dalam perekonomian Indonesia. Berdasarkan harga konstan 1993, kontribusi sektor pertanian terhadap PDB tahun 1998 mencapai 17,20 persen (Anwar, 1999). Terjadinya krisis ekonomi, hanya sektor pertanian dan industri pengolahan migas yang menunjukkan tingkat pertumbuhan yang positif yaitu masing-masing sebesar 0,22 persen dan 1,84 persen. Dilain pihak sektor lainnya seperti industri pertambangan dan penggalian, pengolahan non migas, pembangunan, jasa (perdagangan – restoran – hotel, transportasi – komunikasi), pembangunan, keuangan – kepemilikan – bisnis jasa menunjukkan pertumbuhan yang negatif.

Perkembangan ekonomi pada pertengahan tahun 1980-an dengan orientasi pembangunan industri ekspor non migas telah mempengaruhi struktur pekerjaan dan pola mobilitas penduduk. Jumlah penduduk aktif ekonomis meningkat setiap waktu searah dengan pertumbuhan populasi, khususnya golongan penduduk usia kerja. Secara nasional selama tahun 1995-1998, persentase penduduk bekerja terhadap penduduk aktif ekonomis menunjukkan peningkatan dari 92,76 persen menjadi 94,54 persen. Begitu pula untuk Jawa dan Luar Jawa masing-masing menunjukkan peningkatan sebesar 1,32 persen dan 2,44 persen. Hal yang sebaliknya terjadi pada persentase penduduk tidak bekerja terhadap penduduk aktif ekonomis menunjukkan penurunan sebesar 1,78 persen (nasional) yang terdiri dari penurunan sebesar 1,32 persen (Jawa) dan 2,44, persen (Luar Jawa).

Sarana produksi pertanian (saprotan) merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam mendukung perkembangan atau kemajuan pertanian terutama untuk mencapai tujuan terciptanya ketahanan pangan. Pupuk dan pestisida (obat-obatan pertanian) adalah sarana produksi pertanian utama yang paling banyak diperlukan petani dalam kegiatan pertanian. Pupuk dalam hal ini terdiri dari pupuk organik (kompos, kotoran hewan, kasting, dan pupuk hijau) dan pupuk anorganik (urea, ZA, TSP, SP36 dan KCL). Sedangkan pestisida meliputi, herbisida, insektisida, fungisida, dan lainnya.

Dengan semakin berkembangnya dan semakin majunya sistem pertanian di Indonesia, kombinasi yang tepat dari penggunaan sarana produksi pertanian, khususnya pupuk dan pestisida merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan, sehingga permintaan sarana produksi pertanian (saprotan) yang terus meningkat dapat dipenuhi dengan terpenuhinya prinsip enam Tepat yaitu, tepat jumlah/dosis, tepat jenis, tepat harga, tepat mutu/kualitas, tepat waktu aplikasinya, dan tepat tempatnya (pupuk tersedia di kios saprotan).

Dihapuskannya subsidi dan dibebaskannya tataniaga pupuk pada 1 Desember 1998, menyebabkan selain harga pupuk makro utama (urea, SP-36, ZA, dan KCL) menjadi mahal, ketersediaan pupuk terutama jenis SP-36 dan KCL yang berasal dari impor menjadi langka. Seringkali jumlah yang tersedia tidak sesuai dengan jumlah yang diminta /diharapkan, sehingga petani sebagai pelaku utama dari pertanian menjadi kesulitan untuk mencari pupuk. Akibatnya, kegiatan pertanian menjadi terganggu dan hasil produksi pun menjadi tidak optimal. Terlebih lagi para petani saat ini sangat tergantung pada pupuk dalam meningkatkan hasil produksinya, terutama sejak diterapkannya panca usaha tani setelah terjadinya Revolusi Hijau pada tahun 1970-an.

Pupuk, pestisida, dan sarana produksi lainnya seperti alat-alat pertanian, umumnya disediakan oleh pengecer yang biasanya berbentuk koperasi atau usaha dagang. Toko/kios saprotan merupakan salah satu usaha dagang yang banyak berada di sekitar petani yang menyediakan saprotan yang dibutuhkan petani. Dengan demikian, kios saprotan merupakan lembaga yang sangat penting bagi petani di dalam menyediakan saprotan. Namun kenyataannya seringkali fungsi lembaga ini menjadi terganggu yang disebabkan karena faktor teknis maupun ekonomis sehingga tidak tercapainya prinsip enam T yaitu tepat jumlah/dosis, tepat jenis, tepat harga, tepat mutu/kualitas, dan tepat waktu, terutama tepat waktu dan tepat jumlah dengan yang diharapkan.

Seringkali pada awal musim tanam, dimana petani sangat membutuhkan saprotan, toko/kios saprotan tidak mampu melayani petani, baik karena jumlahnya yang kurang dari yang diperlukan, ataupun karena tidak mampu menyediakan saprotan sama sekali. Hal itu disebabkan karena terhambatnya pasokan dari distributor maupun sub distributor yang telah ditunjuk, sedangkan distributor/sub distributor sangat tergantung pada pabrik pupuk (PT. PUSRI, PT. KUJANG, PUPUK KALTIM) yang melayani pupuk sesuai dengan wilayahnya masing-masing sampai lini III (tingkat kabupaten). Hal ini sejalan dengan diberlakukannya SK Menperindag No. 38 tahun 1996 tentang pengadaan dan penyaluran pupuk. Hal lain yang dapat menyebabkan terganggunya ketersediaan sarana produksi terutama pupuk adalah adanya distributor/sub distributor yang tidak bertanggung jawab yang menjual pupuk ke daerah yang bukan wilayah kerjanya. Hal ini pernah terjadi di Jawa Barat sekitar tahun 2000 – 2001 dimana seharusnya distributor/sub distributor melayani pengecer di wilayah Jawa Barat, yang terjadi malah melayani wilayah Jawa Tengah. Hal tersebut dapat terjadi karena selain harga di Jawa Tengah lebih baik, juga pembeli di wilayah Jawa Tengah memiliki rasa fanatisme yang tinggi terhadap jenis pupuk tertentu yang diproduksi dan diperuntukkan untuk wilayah Jawa Barat.

Masalah lainnya yang sering dirasakan para pemilik/pengelola toko/kios saprotan adalah dalam hal pembayaran. Petani biasanya melakukan pembayaran setelah panen selesai sehingga perlu waktu “tunggu”, padahal di sisi lain toko/kios saprotan juga memerlukan dana tunai untuk membeli barang untuk penjualan berikutnya bahkan apabila memungkinkan, dapat membeli barang untuk stok. Hal ini seringkali menjadi masalah karena modal yang dimiliki para pemilik/pengelola toko/kios saprotan sangat terbatas.

Selain hal di atas, masalah lain yang sering terjadi adalah jumlah yang tertulis di kemasan tidak sesuai dengan jumlah yang sebenarnya. Apabila hal itu terjadi, kerugian ada di pihak toko/kios saprotan, padahal keuntungan yang diperoleh toko/kios saprotan yang berfungsi sebagai pengecer relatif sangat kecil dibandingkan pedagang yang lebih besar (distributor/sub distributor). Begitu pula dengan kemasan yang seringkali sudah rusak dan usang. Tidak sesuainya jumlah yang ada di kemasan dan kemasan yang rusak dan usang, merupakan hal yang sulit terkontrol. Hal tersebut dapat terjadi apabila pembelian dilakukan melalui pesanan, terutama pesanan dalam jumlah relatif besar.

Dari uraian di atas terlihat bahwa toko/kios saprotan merupakan lembaga yang sangat penting yang berhubungan langsung dengan petani dalam hal penyediaan sarana produksi pertanian (saprotan). Dengan kata lain, toko/kios saprotan berperan sebagai “agent of development” dalam menunjang keberhasilan pembangunan pertanian. Oleh karena itu perlu diketahui bagaimana karakteristik industri toko/kios saprotan baik skala kecil maupun menengah, dikaji dari aspek teknis dan aspek pasar yang meliputi pembelian dan penjualan saprotan, aspek finansial, prospek dan tingkat resiko yang dihadapi industri toko/kios saprotan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published.